PENGAKUAN & ATURAN Gereja Toraja

PENJELASAN PENGAKUAN IMAN GEREJA TORAJA

Pendahuluan

Pada tanggal 27 November 1981, Gereja Toraja akhirnya memiliki pengakuan sendiri sebagai hasil pergumulan melalui Keputusan Rapat Komisi Usaha Gereja Toraja (KUGT) Lengkap, berdasarkan penugasan dan Keputusan Sinode Am XVI di Makale, Juli 1981. Pengakuan Iman Gereja Toraja disusun berdasarkan kerinduan Gereja Toraja memiliki pengakuan sendiri yang relevan dan fungsional. Kerinduan ini telah dituangkan ke dalam Keputusan Sinode Am XIII di Palopo, tahun 1972, yang merupakan peningkatan tekad Gereja Toraja sejak ia berdiri sendiri. Hal ini dapat kita lihat dalam Peraturan Gereja Toraja pasal 37 (edisi 1970) yang berbunyi: “Pengakuan Iman Gereja Toraja didasarkan atas segenap Alkitab, yakni Firman Allah yang diterangkan di dalam tiga naskah kesatuan yaitu: Katekhismus Heidel-berg, 37 pasal Pengakuan Gereformeerd dan 5 pasal penentang Remonstran.”

Dari pasal Peraturan Gereja Toraja tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa:
1. Gereja Toraja belum mempunyai Pengakuan yang dirumuskan sendiri.
2. Dasar Pengakuan itu ialah segenap Alkitab menurut tafsiran tiga naskah keesaan.

Jadi selama ini tidak berarti bahwa Gereja Toraja hidup dan bekerja tanpa pengakuan. Dasar keberadaan Gereja Toraja tidak lain dari Pengakuan bahwa KRISTUS ITULAH TUHAN! Sadar atau tidak sadar setiap Gereja yang mengaku dirinya Gereja Kristen, harus berada di atas dasar pengakuan itu, karena dasar lain tidak ada (1Kor. 3:11).

Pengakuan Gereja yang disajikan ini adalah hasil dari satu proses penyusunan melalui bentuk konsultasi khusus dengan ceramah-ceramah/prasaran-prasaran dan diskusi-dis-kusi yang diselenggarakan oleh Komisi Khusus Pengakuan Iman Gereja Toraja untuk memperoleh sebanyak mungkin bahan masukan. Bahan masukan ini merupakan bahan utama dalam penyusunan selanjutnya oleh Komisi Khusus Pengakuan Iman Gereja Toraja. Rumusan-rumusan Pengakuan ini tidak ditemukan melalui buku-buku pegangan theologis, melain-kan melulu melalui proses tersebut di atas. Pengakuan ini dapat disebut asli (orisinil) karena ia hanya mau mengaku bahwa: “YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT”, dalam ketaatan kepada Firman Allah di tengah-tengah pergumulan hidup yang konkret, di sini dan sekarang.

Tujuan, sifat, fungsi dan wibawa suatu pengakuan gereja dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tujuan Pengakuan Iman Gereja Toraja

Tujuan Pengakuan Iman Gereja Toraja ini ialah untuk dijadikan pegangan dan pedoman bagi pelaksanaan tugas gereja di tengah-tengah dunia dimana Gereja Toraja ditem-patkan Tuhan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Pengakuan Iman Gereja Toraja teristimewa sebagai bahan utama untuk kegiatan-kegiatan pembinaan dan pendidikan agama.

Pengakuan Gereja itu barulah merupakan pengakuan bila ia berfungsi di tengah-tengah kehidupan gereja sehari-hari.
- Tuhan Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia dengan berbagai-bagai cara. Penyataan Allah itu menimbulkan jawaban manusia secara spontan maupun reflektif . Alkitab penuh dengan jawaban manusia terhadap penyataan Allah. Pengakuan tidak lain daripada jawaban manusia atas penyataan Allah secara reflektif.

Pengakuan gereja merupakan rumusan hasil refleksi Gereja mengenai penyataan Allah.
- Allah menyatakan diri-Nya di dalam Yesus Kristus kepada dunia (Yoh. 3:16). Oleh sebab itu setiap Pengakuan yang berdasarkan penyataan itu harus Kristologis, bahkan Kristosentris (1Kor. 2:2, Mat. 16:16). Kristus datang untuk seluruh dunia (kosmos). Oleh sebab itu Pengakuan harus bersifat Universal. Pengakuan tidak boleh membatasi diri kepada pribadi-pribadi, ke-pada Gereja atau daerah tertentu. Jangkauannya harus umum dan terbuka serta harus me-nampakkan kasih dan keprihatinannya terhadap dunia.

Sifat-Sifat Pengakuan

Pengakuan adalah rumusan Gereja sebagai hasil reflek-sinya terhadap penyataan Allah. Hal itu berarti bahwa pengakuan itu hanya mempunyai kuasa (otoritas) sekun-der. Ia merupakan norma yang ditentukan oleh Alkitab. Ia tidak boleh ditempatkan di atas atau di samping Alkitab, yang merupakan satu-satunya norma yang mutlak.
Pengakuan sebagai satu rumusan refleksi mempunyai sifat keterbatasan dan keterikatan. Ia terbatas dan terikat pada cara berpikir tertentu dengan latar belakang kebudayaan dan keadaan tertentu.
Kebenaran yang dirumuskan itu tetap sama, tetapi bentuk rumusan bisa berubah-ubah sesuai dengan dinamika refleksi manusia.
Sebab itu tidak ada pengakuan yang sempurna, yang lengkap dan yang berlaku untuk selama-lamanya. Pe-ngakuan itu harus dinamis sesuai dengan dinamika Injil yang mendatangkan keselamatan (Rm. 1:16).
Setiap Pengakuan harus merupakan jawaban manusia terhadap penyataan Allah di dalam situasi konkret, di sini dan sekarang.
Fungsi Pengakuan

Setiap pengakuan harus berfungsi di tengah-tengah kehidupan gereja dalam arti:

Sebagai ungkapan iman. “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar (Kis. 4:20). “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata (2Kor. 4:13).
Sebagai kesaksian dan pertanggungjawaban peng-harapan. “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang peng-harapan yang ada padamu.” (1Ptr. 3:15 bnd. 2Tim. 1:8; 2:25).
Sebagai pegangan untuk membedakan ajaran yang benar dari ajaran yang salah.
Untuk memelihara kesatuan iman.
Sebagai pegangan untuk menyatakan kebenaran iman dan melanjutkannya kepada generasi yang berikut.
Wibawa Pengakuan

Secara mutlak Pengakuan Gereja tidak perlu. Yang perlu ialah satu-satunya Firman Allah.
Pengakuan mempunyai wibawa oleh karena ia berdiri di atas Alkitab.Tetapi pengakuan sebagai rumusan refleksi manusia adalah pekerjaan manusia. Oleh sebab itu ia tidak boleh disamakan dengan Firman Allah dan setiap saat ia dapat dilengkapi atau diubah bila perlu.
Struktur Pengakuan Iman Gereja Toraja
 

 


Inti Pengakuan Iman Gereja Toraja ialah Pengakuan Gereja yang Am, yaitu: “YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT”, yang dijabarkan melalui garis pemi-kiran sebagai berikut:
“Allah berfirman kepada manusia yang ditebus, dikuduskan dan dipanggil menjadi Umat Allah untuk disuruh ke dalam dunia bagi pekerjaan penyelamatan menuju zaman akhir”.
Penjelasan selanjutnya tidak mempunyai praanggapan bahwa segala sesuatu sudah akan jelas, karena penjelasan ini hanya menonjolkan pokok-pokok yang penting, bab demi bab. Ada butir-butir dari pengakuan ini yang tidak perlu dijelaskan karena dianggap sudah jelas. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini dapat mem-bantu anggota jemaat dalam pemahaman pengakuan iman-nya. Diharapkan pula agar suatu waktu ada rekan-rekan yang mau menyusun buku pegangan katekisasi, baik untuk Guru, maupun untuk murid, berdasarkan pengakuan ini.

Inti Pengakuan Iman Gereja Toraja (Mukadimah):

“YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT.”

Kita perlu memperhatikan istilah “itulah”. Memang di dalam ayat-ayat pendukung dari pengakuan inti ini kita dapati istilah adalah dan bukan itulah. Namun istilah “itulah” yang dipilih dengan alasan: Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat memang benar, dan tidak dapat disangkal; tetapi kalau kita sungguh-sungguh mau mengaku secara relevan di tengah-tengah lingkungan kita, maka pengakuan itu baru merupakan pernyataan yang netral, belum merupakan suatu pilihan. Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat memang benar, tetapi itu belum berarti bahwa selain Yesus tidak ada lagi Tuhan dan Juruselamat lainnya. Di sinilah letak persoalannya. Justru di dalam kehidupan kita terdapat banyak kuasa yang ingin pula diakui sebagai tuhan dan juruselamat. Di dalam kehidupan manusia umumnya dan mungkin di dalam kehidupan kita sendiri masih terdapat saingan-saingan Kristus sebagai Tuhan dan Juru-selamat.

Pengharapan kita sering lebih dijamin oleh harta kekayaan, pangkat, kuasa, kedudukan sosial, akal budi, ilmu pengetahuan, ajaran-ajaran sesat, kesalehan dan sebagainya. Memang Kristus Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi selain DIA masih banyak tuhan dan juruselamat/ mesias yang lain. Sebab itu kita memilih istilah “itulah”. Itulah, berarti kita jelas memilih. Mungkin orang beranggapan bahwa banyak kuasa yang bisa kita andalkan sebagai Tuhan dan Juruselamat. Di mana-mana memang Kristus punya banyak saingan, tetapi bagi kita tidak ada pilihan lain: “YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURUSELAMAT”. Dalam Pengakuan ini kata “kita” dipakai dan bukan kata “kami” percaya. Dengan mempergunakan kata “kita” dimaksudkan agar setiap pendengar atau pembaca diajak menghayati dan mengamalkan isi Pengakuan ini. Jadi kata “kita” dimaksudkan untuk melibatkan semua pendengar/pembaca. Itu berarti bahwa tekanan diberikan baik kepada situasi dan kebutuhan ke dalam (Pembinaan Warga Gereja), maupun kepada ajakan bagi mereka yang bukan Warga Gereja untuk mendengar, menghayati dan mengamalkan isi pengakuan ini (segi kerasulan). Dengan kata lain, Pengakuan Iman Gereja Toraja dimaksudkan untuk kebutuhan pembinaan demi tugas kerasulan Gereja.

Pengakuan Oikumenis maksudnya ialah bahwa Gereja Toraja adalah bagian dari Gereja yang Am, sedang Pe-ngakuan Iman Gereja Toraja berada dalam rumpun reforma-toris menurut paham Calvin.
 

PENGAKUAN IMAN GEREJA TORAJA



MUKADIMAH

Di bawah pimpinan Roh Kudus dan berdasarkan Firman Allah kita percaya, bahwa Tuhan Allah berkenan menyatakan diri-Nya, yaitu: Kehendak-Nya, Kasih-Nya dan Kuasa-Nya kepada kita di dalam Yesus Kristus, sehingga kita tiba pada pengakuan:

“YESUS KRISTUS ITULAH TUHAN DAN JURU SELAMAT”
Ia menebus dan menyelamatkan kita dari kebinasaan sehingga kita menjadi milik-Nya dan menerima hidup yang kekal. Di bawah pimpinan Roh Kudus kita memberlakukan ke-daulatan Yesus Kristus atas kehidupan kita.
Dalam hubungan dengan pengakuan oikoumenis dan reformatoris, kita bersama-sama dengan semua orang kudus pada segala abad dan di segala tempat mengaku, bahwa:

n
Bab I: Tuhan Allah

Allah hanya satu. Hakikat Allah yang satu-satunya itu ialah kasih, yang telah dinyatakan-Nya dalam sejarah karya penyelamatan-Nya dalam tiga oknum, yaitu: Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.
Allah itu adalah satu-satunya sumber kehidupan, berkat dan kebaikan. Hanya Dialah yang boleh disembah.
Allah Bapa yang kekal, telah menciptakan segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
Allah yang kekal itu memelihara dan menyelamatkan cip-taan-Nya di dalam keadilan dan kebenaran, karena ke-baikan dan kasih-Nya.
Allah Anak yang kekal, lahir menjadi manusia untuk mengerjakan penyelamatan dunia.
Allah Roh yang kekal menyaksikan keselamatan kepada dunia. Ia meyakinkan kita dan memeteraikan keselamatan itu di dalam hati dan kehidupan manusia.
Ketritunggalan tidak dapat dijangkau dengan akal manusia, tetapi Firman Allah menyatakan-Nya kepada manusia supaya diterima dan dipercayai berdasarkan kasih setia Allah yang kekal terhadap ciptaan-Nya.
Bab II: Firman Allah

Yesus Kristus adalah FIRMAN ALLAH yang memanggil kita untuk percaya kepada-Nya. Di dalam Dia janji keselamatan telah digenapi dan karena itu berlaku bagi kita.
Melalui ciptaan-Nya dan tindakan-Nya di dalam alam dan sejarah, Allah senantiasa menyatakan diri-Nya. Jawaban manusia atas penyataan Allah secara umum tidak dapat membawanya kepada pengenalan yang benar tentang Allah. Alkitab sebagai penyataan Allah yang khusus, me-nyaksikan bahwa hanya di dalam Yesus Kristus, Allah da-pat dikenal sebagai Bapa yang menyelamatkan.
Alkitab adalah Firman Allah yang disampaikan kepada manusia melalui para Nabi dan Rasul, terdiri dari buku-buku kanonik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dimana Allah menyatakan kehendak-Nya untuk menye-lamatkan manusia.
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebagai janji kese-lamatan dan hidup baru, adalah satu kesatuan, saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain.
Alkitab sebagai buku, tidak mempunyai kekuatan dalam dirinya sendiri. Roh Kudus menyaksikan kepada kita, bah-wa Alkitab adalah Firman Allah, dan meyakinkan kita sehingga kita menerimanya sebagai kekuatan yang mem-baharui dan menyelamatkan.
Dengan kuat kuasa Roh Kudus, Firman Allah membawa manusia kepada keselamatan di dalam Yesus Kristus di tengah-tengah pergumulan hidup melalui pemberitaan dan pembacaan. Tafsiran adalah usaha orang percaya untuk mengerti Firman Allah, supaya diberlakukan di dalam situasinya di sini dan sekarang.
Firman Allah, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah satu-satunya kaidah hidup yang normatif bagi ke-hidupan manusia, baik secara pribadi, maupun secara bersama-sama.
Alkitab adalah buku sejarah penyelamatan Allah yang memanggil manusia untuk percaya. Alkitab bukan buku pegangan ilmu pengetahuan dan dengan demikian tidak boleh dipertentangkan dengan prinsip-prinsip ilmiah.
 

Bab III: Manusia

1. Manusia diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya.
Gambar Allah adalah hubungan dalam tanggung jawab dengan Allah, dengan sesama manusia dan dengan alam semesta, dalam pengenalan yang benar, kesucian, kebe-naran dan kasih.
2. Gambar Allah sebagai hubungan dalam tanggung jawab menempatkan seluruh manusia di dalam kedudukan yang sama dan mengikat seluruh manusia dalam satu kesatuan untuk hidup saling mengasihi.
3. Gambar Allah sebagai hubungan dalam tanggung jawab membedakan manusia dari makhluk lainnya dan mem-berikan kedudukan kepadanya untuk memerintah, me-naklukkan dan memelihara alam semesta sebagai man-dataris Allah.
4. Manusia diciptakan dalam kesatuan tubuh dan jiwa.
Jiwa tidak ilahi dan tidak lebih penting daripada tubuh dan sebaliknya; oleh sebab itu, roh dan tubuh, hal rohani dan hal jasmani sama pentingnya. Manusia dipanggil memelihara tubuhnya sebagai Bait Allah dalam kesucian.
5. Manusia sebagai ciptaan Allah yang baik telah jatuh ke dalam dosa, karena keinginan manusia menjadi seperti Allah.
6. Dosa adalah pemutusan hubungan yang benar dengan Allah serta pemberontakan terhadap Allah di dalam ke-hidupan sehari-hari. Pemutusan hubungan dengan Allah berarti kematian manusia seutuhnya.
7. Pemutusan hubungan yang benar dengan Allah mengaki-batkan umat manusia tidak lagi sanggup hidup dalam kebenaran dan kesucian serta ketaatan terhadap hukum Allah, dalam hubungan dengan sesama manusia dan alam semesta, sehingga manusia berada di bawah hukuman murka Allah.
8. Kita mengenal dosa kita dari Alkitab dan bukan dari ber-bagai malapetaka, penyakit dan penderitaan sebagai aki-batnya. Roh Kuduslah yang menginsafkan kita akan dosa-dosa kita.
9. Begitu besar kasih setia Allah sehingga Ia memulihkan kembali hubungan yang benar dengan manusia di dalam Yesus Kristus, manusia benar dan sejati itu.

Bab IV: Penebusan

1. Yesus Kristus, Allah Anak, meninggalkan kemuliaan-Nya dan mengosongkan diri-Nya dengan jalan menjadi manu-sia sejati.
2. Manusia sejati ialah manusia yang sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Ia tidak berdosa tetapi Ia telah menanggung kutuk dosa kita, supaya di dalam Dia kita di-benarkan di hadapan Allah.
3. Di dalam kehidupan dan pekerjaan Yesus Kristus, Kerajaan Allah telah hadir di antara manusia yang tanda-tandanya ialah, antara lain: penyembuhan orang sakit, pembangkitan orang mati, pengusiran setan-setan dan pemberitaan Kabar Baik.
4. Di dalam pekerjaan penyelamatan-Nya, Yesus Kristus telah mengalami kehidupan manusia dengan segala kehinaannya, kelemahannya dan sengsaranya, bahkan Ia dicobai dalam segala hal, tetapi Ia tidak berbuat dosa.
5. Yesus Kristus telah menanggung kutuk murka Allah atas dosa kita melalui penderitaan-Nya sampai mati di kayu salib dan bahkan turun ke dalam kerajaan maut. Semua-nya itu dibuat-Nya untuk menggantikan kita dan dengan itu Ia menebus kita dari kuasa maut menjadi milik-Nya.
6. Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Keme-nangan dan kebangkitan-Nya adalah jaminan pembena-ran kita di hadapan Allah dan jaminan kebangkitan kita pada akhir zaman. Dengan demikian kita ikut menang dan bangkit bersama Kristus kepada kehidupan yang baru, kini dan mati.
7. Keselamatan dan kesejahteraan kita kini dan nanti tidak tergantung pada persembahan-persembahan, seperti: kur-ban binatang, amal, dan kebajikan serta kesalehan kita. Orang berdosa dibenarkan di hadapan Allah, hanya oleh kurban Yesus Kristus.
8. Yesus Kristus yang bangkit, telah naik ke sorga menjadi Pengantara dan dilantik menjadi Raja. Kepada-Nya telah diserahkan segala kuasa, baik di sorga maupun di bumi. Sebagai Pengantara Ia menjadi Juru Syafaat kita, me-nyediakan tempat bagi kita dan merupakan jaminan kebangkitan manusia seutuhnya. Dari sana Ia akan datang kembali sebagai Hakim.
9. Dengan perantaraan Roh Kudus, Yesus Kristus menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman.

Bab V: Pengudusan

1. Allah Roh Kudus diutus oleh Allah Bapa dan Allah Anak untuk memberlakukan dalam hidup kita karya penye-lamatan Allah di dalam Yesus Kristus.
2. Di dalam Roh Kudus Allah hadir dan bekerja di tengah-tengah dunia. Ia memelihara, membebaskan dan meme-rintah dunia ini dalam rangka perwujudan Kerajaan Allah.
Kehadiran Alllah itu adalah kuasa yang merombak, mem-baharui dan menyucikan kita, sehingga kita meninggalkan kehidupan lama dan hidup dalam kehidupan baru.
3. Roh Kudus meyakinkan kita melalui Firman Allah, bahwa kita sudah dibenarkan di dalam Yesus Kristus, sehingga kita adalah ciptaan baru.
4. Di dalam iman, sebagai hubungan yang akrab antara kita dengan Allah, kita mengaminkan pembenaran kita dalam Yesus Kristus, dan kita mempercayakan seluruh kehidu-pan kita dalam tangan Allah sebagai ibadah kita yang sejati.
Melalui doa, kita menyatakan dan merasakan hubungan kita yang erat dengan Allah.
5. Sejak kita percaya kepada Yesus Kristus, kita sudah berada dalam kehidupan baru, tetapi dosa masih tetap merupakan kenyataan dalam kehidupan kita.
Kehidupan beriman menempatkan kita dalam pergumu-lan antara dosa dan anugerah, antara yang lama dan yang baru. Roh Kudus menginsafkan kita tentang dosa dan kebenaran serta membawa kita kepada pertobatan dari hari ke hari. Ia meyakinkan dan menghiburkan kita akan kepastian kemenangan kita.
6. Orang beriman sebagai ciptaan baru tidak dapat lagi hidup di dalam dosa, melainkan kehidupannya merupa-kan suatu persembahan hidup.
Beramal dan berbuat kebanjikan bukan merupakan keharusan, melainkan adalah pola hidup dan kebudayaan kita sebagai buah-buah iman bagi kemuliaan Allah.

 

Bab VI: Umat Allah

1. Allah telah memanggil dan memilih satu umat dan mendirikan Gereja-Nya sebagai persekutuan orang-orang percaya, milik kepunyaan-Nya untuk menjadi berkat bagi semua bangsa. Ia mengadakan satu perjanjian dengan umat-Nya berdasarkan kasih setia-Nya dalam perwuju-dan rencana penyelamatan-Nya di dalam Yesus Kristus. Allah memanggil umat ini dengan perantaraan Roh dan Firman-Nya keluar dari kegelapan masuk ke dalam terang Allah yang ajaib, dari bukan umat menjadi umat Allah yang kudus.
2. Umat Allah ini adalah persekutuan baru, milik Yesus Kristus, yang menata kehidupannya berdasarkan Firman Allah, dan bukan menurut kaidah-kaidah kehidupan lama atau kuasa apapun juga.
Berdasarkan Firman Allah itu dan di bawah pimpinan Roh Kudus, umat Allah menjalankan tugas nabiahnya untuk meyakinkan dunia tentang dosa dan kebenaran.
3. Umat Allah diutus ke dalam dunia untuk dunia; berada di dalam dunia, tetapi bukan dari dunia.
Dalam keberadaannya Gereja merupakan penumpang dan pendatang. Gereja harus rela menderita sebagai tanda kesetiaannya apabila dunia membenci dan menganiaya-nya. Kekuatannya terletak di dalam kemenangan Tuhan.
4. Persekutuan baru ini adalah Tubuh Kristus, keluarga Allah, dengan Kristus sebagai Kepala. Karena itu persekutuan ini hidup dalam satu persaudaraan dengan kedudukan yang sama, tanpa pembedaan ras, bangsa, suku dan lapisan-lapisan sosial.
Roh Kudus, yang tinggal di dalamnya membagi-bagikan dari kepelbagaian karunia kepada masing-masing ang-gota untuk pembangunan Tubuh Kristus.
5. Persekutuan baru ini, sebagai buah sulung kerajaan Allah menampakkan diri dengan menembus segala tembok pemisah di dalam struktur dan pola kehidupan lama de-ngan segala penampakannya. Setiap kegiatannya adalah tanda dari kehidupan baru itu, baik bila jemaat ber-kumpul maupun bila menyebar, untuk melayani dan ber-saksi di tengah-tengah dunia.
6. Umat Allah sebagai Tubuh Kristus bukanlah suatu per-sekutuan yang statis dan hidup bagi dirinya sendiri, me-lainkan jemaat adalah satu arak-arakan yang dinamis dan terbuka serta mengundang semua orang melalui kesaksian hidup, pelayanan dan pemberitaannya untuk ikut dalam arak-arakan itu menuju kepada kepenuhan hidup di dalam Kerajaan Allah.
7. Arak-arakan ini senantiasa dibina dan dipelihara oleh Roh Kudus dan Firman Allah di dalam seluruh kehidupan dan segala kegiatannya di tengah-tengah dunia.
Hari Minggu adalah Hari Tuhan yang diberikan kepada kita untuk secara khusus bersekutu dengan Allah dan de-ngan sesama saudara. Pada hari itu persekutuan nampak di dalam puji-pujian, doa, pembacaan dan pemberitaan Firman, pengakuan, persembahan, Baptisan dan Perja-muan Kudus.
8. Yesus Kristus mengaruniakan kepada gereja-Nya sakra-men Baptisan dan Perjamuan Kudus sebagai alat anuge-rah, tanda perjanjian-Nya, yaitu Firman yang kelihatan.
Kedua sakramen itu adalah tanda dan meterai anugerah keselamatan berdasarkan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Sakramen adalah jaminan keselamatan kita untuk menghiburkan kita dan menguatkan iman kita.
Air, roti dan anggur di dalam sakramen tidak mempunyai kekuatan dalam dirinya sendiri. Anugerah yang ditandai dan dimeteraikannya baru berlaku bagi kita bila kita menerimanya dengan iman yang sungguh.
9. Sakramen adalah Firman yang kelihatan, sebab itu tidak dapat dipisahkan dari pemberitaan Firman.
Sakramen adalah tanda persekutuan. Baptisan menan-dakan bahwa kita termasuk anggota Tubuh Kristus dan Perjamuan Kudus menandakan bahwa kita bersekutu dengan Kristus dan sesama anggota. Baptisan dan Per-jamuan Kudus sebagai tanda perjanjian Allah dan persekutuan tidak dapat dipisahkan satu daripada yang lain.
10.Di dalam Baptisan kita dibaptiskan ke dalam kematian Kristus dan dengan demikian kita disucikan dari segala dosa kita dan dibangkitkan bersama Kristus kepada kehidupan baru. Baptisan dilayankan satu kali saja kepada setiap anggota jemaat, baik yang dewasa mau-pun anak-anak. Berdasarkan perjanjian Allah, anak-anak anggota jemaat wajib dibaptiskan. Orangtua bertanggung jawab membimbing anak-anaknya kepada pengenalan akan Yesus Kristus untuk sendiri mengaku imannya.
11.Perjamuan Kudus adalah jaminan bagi kita, bahwa dosa kita telah diampunkan di dalam Yesus Kristus dan kita te-lah bangkit kepada kehidupan baru dalam persekutuan dengan Dia.
Di dalam Perjamuan Kudus, Yesus Kristus hadir di dalam Roh-Nya dan kita merayakannya sebagai pesta buah sulung dari sukacita yang abadi.
12.Yesus Kristus memerintah jemaat-Nya dengan mengang-kat pejabat-pejabat khusus untuk melayani, memerintah dan memperlengkapi orang-orang kudus agar mereka dapat melaksanakan fungsinya dalam jabatan am orang percaya di tengah-tengah dunia ini.
Wibawa seorang pelayan terletak di dalam penugasan Yesus Kristus sendiri dan dalam ketaatan, pengabdian serta kesetiaan kepada-Nya.
13. Setiap Gereja setempat di mana Firman Allah secara te-ratur diberitakan, kedua sakramen dilayankan, fungsi kerasulan dijalankan, dan disiplin dilaksanakan, adalah penampakan penuh dari Gereja yang am, yaitu umat yang satu itu. Dengan demikian setiap Gereja atau jemaat berada dalam hubungan oikumenis dengan Ge-reja atau jemaat lain. Umat Allah sebagai Tubuh Kristus adalah satu dan Kristus adalah Kepalanya.

Bab VII: Dunia

1. Dunia ini dan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah ciptaan Allah yang baik. Yang diciptakan bukan ilahi dan oleh karena itu tidak boleh disembah atau ditakuti.
2. Ketidaklestarian dunia dan alam semesta disebabkan oleh dosa yang telah merusak hubungan antara Allah dengan manusia dan antara manusia dengan sesamanya. Oleh karena itu dunia dan alam semesta membutuhkan pula pembebasan dan pembaharuan.
3. Dunia ini yang telah dirusakkan oleh dosa penuh dengan kuasa-kuasa kegelapan sehingga manusia hidup dalam ketakutan dan kepercayaan kepada berbagai tahyul dan jimat serta memakai segala macam cara untuk meng-amankan kehidupannya, tetapi Yesus Kristus terang dunia itu, telah menaklukkan segala kuasa kegelapan itu.
4. Agama-agama dengan lembaga-lembaga keagamaan adalah penampakan kesadaran manusia tentang adanya Allah atau sesuatu kuasa di luar kehidupannya yang ia takuti dan sembah. Agama yang benar dan yang membawa kepada keselamatan ialah yang berdasarkan penyataan Allah yang khusus di dalam Yesus Kristus.
5. Kehidupan manusia berada dalam ketidakseimbangan, yang terutama nampak dalam pembedaan dan perbedaan kedudukan sosial ekonomis, yang dilegalisasi di dalam berbagai struktur masyarakat, baik tradisional maupun modern. Struktur-struktur sosial-ekonomis yang me-nyebabkan ketidakadilan memerlukan perombakan dan pembaharuan oleh kuat kuasa Roh Kudus agar sesuai dengan kehendak Allah.
6. Pemerintah dan lembaga-lembaganya adalah alat di ta-ngan Tuhan untuk menyelenggarakan kesejahteraan, kea-dilan dan kebenaran serta memerangi kejahatan dalam tanggung jawab kepada Tuhan dan kepada rakyat.
Ia harus senantiasa berada di bawah kritik Firman Allah. Oleh sebab itu, kita wajib mendoakan dan membantu pemerintah agar ia dapat menjalankan tugasnya sesuai dengan kehendak Allah untuk kesejahteraan manusia.
7. Berbudaya adalah tugas dari Allah.
Kebudayaan adalah kegiatan akal dan rasa manusia dalam mengolah dan menguasai alam untuk kebutuhan kehidupan jasmani dan rohani.
Sebab itu kebudayaan harus dinamis dan diperkembang-kan senantiasa di dalam suatu pergumulan rangkap yaitu pergumulan manusia dalam hubungannya dengan Allah dan dunia.
8. Adat istiadat adalah kebiasaan-kebiasaan yang mengatur kehidupan bermasyarakat berdasarkan kaidah-kaidah dan keyakinan masing-masing masyarakat atau kelom-pok dan golongan. Sebab itu adat tidak dapat dipisahkan dari keyakinan dan agama, sehingga kita wajib menguji setiap adat apakah ia sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.
9. Nikah sebagai persekutuan kasih adalah anugerah dan tugas dari Allah yang harus dibina dan dipertanggung-jawabkan untuk kemuliaan Allah.
Nikah dan keluarga yang sejahtera merupakan dasar untuk masyarakat dan bangsa yang sejahtera. Oleh sebab itu kita wajib memeliharanya di dalam kesucian hidup se-suai dengan kehendak Allah.
10. Ilmu pengetahuan adalah anugerah Allah yang dapat membawa manusia kepada usaha pembangunan untuk perbaikan dan pengembangan kehidupan bagi kemulia-an Allah.
Anugerah Allah itu menuntut tanggung jawab yang besar karena kecenderungan manusia menyalahgunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan diri, kelompok dan golongan masing-masing, merusakkan alam, saling membinasakan dan bahkan menyangkal Allah.
11. Dunia ini dengan segala lembaga di dalamnya yang dikacaukan oleh dosa tetap dikasihi, dipelihara dan dipe-rintah oleh Allah di dalam kesetiaan-Nya.
Allah sudah dan sedang membebaskan serta membaha-rui dunia ini di dalam Yesus Kristus menuju kepada kepe-nuhannya di dalam langit dan bumi baru.

Bab VIII: Zaman Akhir

Zaman akhir telah mulai dengan kedatangan Yesus Kristus. Di dalam kebangkitan-Nya kita dibangkitkan kepada suatu hidup baru yang penuh pengharapan.
Yesus Kristus yang telah naik ke sorga akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya sebagai Hakim dan Juruse-lamat untuk mewujudkan keselamatan dalam kesem-purnaan Kerajaan Allah. Sebab itu dengan sangat rindu kita menantikan saat itu.
Pada saat kedatangan-Nya kembali, yang tidak seorang pun mengetahuinya, Ia akan menghakimi segala orang yang hidup dan yang mati menurut iman dan perbua-tannya. Dunia akan dimurnikan, dipulihkan dan dibaharui menjadi dunia yang lestari.
Kebangkitan adalah kebangkitan manusia seutuhnya. Setiap orang percaya akan dibangkitkan kepada ke-hidupan yang baru di dunia baru, sedangkan setiap orang yang tidak percaya kepada keadaan di luar persekutuan dengan Allah dalam penghukuman yang kekal.
Upah dosa ialah maut. Maut adalah kematian manusia seutuhnya. Mencari hubungan dengan arwah, menyem-bahnya dan mengharapkan berkat daripadanya, adalah usaha yang sia-sia serta merusakkan hubungan dengan Allah dan itu adalah dosa.
Hidup di dalam hubungan dengan Allah adalah hidup yang kekal, yang tidak dapat ditiadakan oleh kuasa apapun. Allah dalam kuasa dan kasih setia-Nya melan-jutkan hubungan itu, sehingga setiap orang percaya sesu-dah mati, berada bersama-sama dengan Kristus. Setiap orang yang tidak percaya berada di luar persekutuan dengan Kristus.
Kehidupan yang kekal adalah kehidupan dalam relasi yang sudah dipulihkan antara Allah dengan manusia, manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam, dan akan disempurnakan dalam langit dan bumi baru, di mana Allah disembah dan dimuliakan selama-lamanya.
Kehidupan yang kekal ini memberikan makna kepada kehidupan kita, kini dan di sini, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan dalam persekutuan dengan Yesus Kristus tidak sia-sia. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.
 

===================================================

1
TATA GEREJA TORAJA
PEMBUKAAN


Sesungguhnya gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil dan percaya kepada
Allah yang esa yang telah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus sesuai kesaksian
Alkitab yang telah diterangkan dalam Pengakuan Gereja Toraja dan Pengakuan Oikumenis.
Gereja sebagai umat Allah, persekutuan orang-orang percaya, yang dipanggil keluar dari
kegelapan masuk ke dalam terang Allah yang ajaib,melalui perantaraan Roh dan Firman, menjadi
milik kepunyaan-Nya untuk mewujudkan karya penyelamatan di dalam Yesus Kristus.
Gereja sebagai tubuh Kristus dan dikepalai oleh Kristus sendiri, berada di dunia tapi bukan
dari dunia untuk melaksanakan misi Allah dan melanjutkan misi Kristus.Roh Kudus membagi-bagikan
kepelbagaian karunia bagi anggota-anggotanya untuk pembangunan dan pertumbuhanya menuju
akhir zaman.
Gereja sebagai umat yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan
Allah, yang hidup dalam satu kesatuan persaudaraan sejati yang sama dan setara sebagai keluarga
Allah, Gereja Toraja dipanggil dan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan penyelamatan dari
Allah dalam Yesus Kristus, memuliakan Dia serta menjadi berkat bagi seluruh ciptaan.
Sebagai umat Allah, tubuh Kristus dan keluarga Allah, Gereja Toraja lahir sebagai karya Roh
Kudus dari pemberitaan Injil oleh Gereja Protestan Indonesia (Indische Kerk) dan badan zending GZB
dan bertumbuh serta berkembang dalam masyarakat dan budaya Toraja yang kemudian membentuk
organisasi gereja yang bernama Gereja Toraja pada tanggal 25 Maret 1947 dalam Sidang Majelis Am
yang pertama di Rantepao.
Pelayanan Gereja Toraja bersumber dan berdasar pada Firman Tuhan yang mewujud secara
sempurna dalam pelayanan Yesus Kristus melalui hidup, kematian dan kebangkitan-Nya. Dari Dialah
Gereja Toraja menerima tugas pelayanan, pertumbuhan dan pembangunan dirinya dalam kasih,
“Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah
diletakkan yaitu Yesus Kristus.”
Sebagai persekutuan, warga Gereja Toraja merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
masyarakat Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.Gereja Toraja mengakui bahwa gereja dan negara memiliki kewenangan masing-masing,
namun keduanya merupakan mitra yang saling menghormati, saling mengingatkan dan saling
membantu.
Untuk memelihara kekudusan, ketertiban dan kelancaran dalam pelayanan Gereja Toraja,
maka disusunlah Tata Gereja Toraja meliputi : Pembukaan, Batang Tubuh dan Memori Penjelasan.
2
BATANG TUBUH MEMORI PENJELASAN
BAB I
GEREJA
Pasal 1
Nama
Nama gereja ini adalah Gereja Toraja.
Pasal 1
Nama Gereja Toraja tidak boleh disingkat baik
dalam penulisan maupun dalam penyebutan
kalau berdiri sendiri
Pasal 2
Hakikat dan Wujud
1. Gereja Toraja adalah persekutuan orang-orang yang
percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2. Gereja Toraja adalah penyataan dari gereja yang
esa,kudus, am dan rasuli
3. Gereja Toraja mewujud dalam gereja setempat yang
disebut jemaat.
Pasal 2
Ayat 3 Jemaat adalah wujud Gereja Toraja
berupa gereja setempat yaitu
persekutuan orang percaya di suatu
tempat tertentu yang melaksanakan
pemberitaan firman Allah dan sakramen
serta menjalankan tugas panggilannya
untuk menjadi berkat bagi dunia
.
Pasal 3
Waktu dan Tempat Kedudukan
1. Gereja Toraja sebagai lembaga gerejawi terbentuk
pada tanggal 25 Maret 1947 melalui Sidang Majelis Am
yang pertama di Rantepao untuk waktu yang tidak
ditentukan.
2. Gereja Toraja dinyatakan sebagai lembaga keagamaan
yang bersifat gerejawidan berbadan hukum sesuai
Keputusan Menteri Agama R.I. No.26 Tahun 1971
tanggal 11 Mei 1971.
3. Gereja Toraja berkedudukan di Indonesia dan dapat
melayani di tempat-tempat lain.
Pasal 3 cukup jelas
Pasal 4
Pengakuan Iman
1. Gereja Toraja mengaku bahwa Yesus Kristus itulah
Tuhan dan Juruselamat dunia, Kepala Gereja, sesuai
kesaksian Alkitab sebagaimana dirumuskan dalam
Pengakuan Gereja Toraja.
2. Gereja Toraja sebagai persekutuan am orang percaya
menerima Pemahaman Bersama Iman Kristen
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Pengakuan
Iman Rasuli, Pengakuan Athanasius, dan Pengakuan
Nicea Konstantinopel.
Pasal 4
Ayat 1 cukup jelas
Ayat 2Pengakuan Iman Gereja Toraja adalah:
Pengakuan Gereja Toraja, Pengakuan
Iman Rasuli, Pengakuan Athanasius dan
Pengakuan Nicea Konstantinopel.
Pasal 5
Visi Gereja Toraja
Visi Gereja Toraja adalah terwujudnya Gereja Toraja yang
memuliakan Tuhan, memberitakan kebaikan-Nya, menjadi
berkat bagi manusia dan dunia
Pasal 5 Cukup Jelas
Pasal 6
Misi Gereja Toraja
Misi Gereja Toraja adalah bersekutu, bersaksi, dan
melayani.
Pasal 6 Cukup Jelas
Pasal 7
Tujuan
Gereja Toraja bertujuan menghadirkan keadilan dan damai
sejahtera dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan
Pasal 7 Cukup Jelas
Pasal 8
Bentuk
1. Bentuk Gereja Toraja adalah Presbiterial Sinodal.
2. Berdasarkan bentuknya, lingkup pelayanan Gereja
Pasal 8
Ayat 1Bentuk presbiterial sinodal adalah pengaturan
tata hidup dan pelayanan gereja yang
dilaksanakan oleh para presbiteroi (pendeta,
penatua, dan diaken) dalam suatu jemaat
3
Toraja adalah jemaat, klasis, sinode wilayah dan sinode
am.
dengan keterikatan dan ketaatan kepada
kebersama-samaan dengan para presbiteroi
dalam lingkup yang lebih luas (klasis, wilayah
dan sinode).
Ayat 2
a. Klasis adalah persekutuan jemaat-jemaat dalam
suatu lingkup tertentu yang terikat oleh
pelayanan bersama.
b. Wilayah adalah persekutuan Klasis-Klasis dalam
suatu lingkup tertentu yang diikat oleh
pelayanan bersama.
c. Sinode adalah kesatuan Gereja Toraja yang
hadir dan melaksanakan misinya di dunia ini
dan merupakan persekutuan seluruh jemaat
Gereja Toraja.
Pasal 9
Logo
Logo Gereja Toraja adalah sebagai berikut:
Pasal 9
Makna Logo Gereja Toraja:
a. Rumah Toraja melambangkan konteks budaya
Toraja tempat Gereja Toraja lahir dan tumbuh.
b. Salib melambangkan kasih dan pengorbanan
Tuhan Yesus Kristus yang di atasnya Gereja Toraja
dibangun, berdiri, dan bertumbuh sesuai dengan
1 Korintus 3:11.
c. Alkitab, Firman Allah, melambangkan dasar
persekutuan, pelayanan, dan kesaksian Gereja
Toraja.
d. Tiga susun gelombang melambangkan tri
panggilan Gereja Toraja yang dilaksanakan dalam
dunia yang penuh tantangan dan peluang.
e. Lingkaran dalam melambangkan konteks
Indonesia tempat Gereja Toraja melaksanakan
pembinaan warga gereja. Lingkaranluar
melambangkan konteks dunia tempat Gereja
Toraja menyatakan tugas panggilannya.
BAB II
KEANGGOTAAN
Pasal 10
Jenis Keanggotaan
Anggota Gereja Toraja terdiri dari:
1. Anggota sidi.
2. Anggota Baptis.
3. Anggota Calon Baptis.
Pasal 10
Ayat 1 Anggota sidi yaitu anggota jemaat yang telah
melakukan pengakuan iman sendiri di
hadapan Tuhan di tengah-tengah ibadah
jemaat yaitu orang yang dibaptis dewasa dan
atau dibaptis kecil tetapi telah menerima
peneguhan sidi.
Ayat 2 Anggota Baptis adalah anak anggota jemaat
yang telah dibaptis tetapi belum disidi.
Ayat 3Anggota Calon Baptis yaitu anak anggota jemaat
yang belum dibaptis dan orang dewasa yang
mau mengikuti iman kristen serta sudah
mengaku di hadapan jemaat atau Majelis
Gereja, tetapi belum dibaptis.
Pasal 11
Hak dan Kewajiban
1. Anggota Sidi
a. Berhak mendapat semua bentuk pelayanan
gerejawi.
b. Berhak menjadi anggota pengurus lembaga
pelayanan gerejawi.
c. Berhak memilih dan dipilih menjadi pejabat khusus
gerejawi.
d. Mendengar, membaca dan memberitakan firman
Allah dengan kata dan perbuatan.
e. Mempersembahkan tanda syukur atas anugerah
Allah.
f. Memahami, menghayati dan berpegang pada
Pasal 11
Ayat 1 point h
Berperan serta dalam proses-proses
pengambilan keputusan serta penyusunan,
pelaksanaan, evaluasi program kerja dan
anggaran jemaat, klasis, wilayah dan sinode,
melalui prosedur yang telah ditetapkan.
4
Pengakuan Gereja Toraja dan Tata Gereja Toraja.
g. Berhak mengajukan keberatan tertulis kepada
Majelis Gereja jika terdapat keputusan gerejawi
yang dianggap merugikan dirinya.
h. Berperan aktif dalam pembangunan jemaat, klasis,
wilayah dan sinode baik secara sendiri-sendiri
maupun secara bersama-sama.
i. Wajib melaksanakan misi Gereja Toraja baik secara
sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
2. Anggota Baptis.
a. Berhak mendapat pelayanan gerejawi sesuai aturan
dalam Gereja Toraja.
b. Wajib melaksanakan misi Gereja Toraja baik secara
sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
c. Wajib aktif dalam pembangunan jemaat, klasis,
wilayah dan sinode baik secara sendiri-sendiri
maupun bersama-sama.
d. Mendengar, membaca dan memberitakan firman
Allah dengan kata dan perbuatan.
e. Mempersembahkan tanda syukur atas anugerah
Allah.
f. Berperan-serta dalam proses-proses komunikasi
dalam jemaat, klasis,wilayah dan sinode
3. Anggota Calon Baptis.
a. Berhak mendapat pelayanan gerejawi berupa
sakramen baptisan kudus, penggembalaan dan
katekisasi.
b. Calon baptis dewasa berhak dan wajib mengikuti
pelajaran tentang prinsip-prinsip iman Kristen.
c. Mendengar, membaca dan memberitakan firman
Allah dengan kata dan perbuatan.
d. Mempersembahkan tanda syukur atas anugerah
Allah.
e. Berperan-serta dalam proses-proses komunikasi
dalam jemaat, klasis, wilayah, dan sinode
Ayat 2 cukup jelas
Ayat 3 cukup jelas
Pasal 12
Perpindahan Anggota Antarjemaat Gereja Toraja
1. Anggota yang akan pindah mengajukan permohonan
secara tertulis atau lisan kepada Majelis Gereja.
2. Majelis Gereja memberikan surat atestasi untuk
diserahkan kepada Majelis Gereja yang dituju.
Pasal 12.
Ayat 1 cukup jelas
Ayat 2 Surat atestasi adalah surat yang diberikan
kepada anggota jemaat yang ingin pindah
ke jemaat lain. Format surat atestasi
ditetapkan oleh BadanPekerja Sinode
Gereja Toraja.
Pasal 13
Perpindahan Anggota ke Gereja yang Seajaran
1. Anggota yang akan pindah meminta surat pindah
secara lisan atautertulis kepada Majelis Gereja.
2. Majelis Gereja memberikan surat atestasi untuk
diserahkan kepada Majelis Gereja yang dituju setelah
dilakukan percakapan.
Pasal 13
Ayat 1 Cukup Jelas
Ayat 2 Surat atestasi adalah surat yang diberikan
kepada anggota jemaat yang ingin pindah ke
jemaat lain. Format surat atestasi ditetapkan oleh
Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja.
Pasal 14
Penerimaan Anggota dari Gereja yang Seajaran
1. Majelis Gereja menerima anggota yang datang dari
gereja yang seajaran dengan atau tanpa surat atestasi.
2. Majelis Gereja mewartakan penerimaan anggota
tersebut kepada anggota jemaat.
Pasal 14
Ayat 1
a.Gereja yang sejaran adalah gereja yang
ajaaran-ajarannya tidak bertentangan dengan
Pengakuan Gereja Toraja.
b.Panduan tentang gereja yang sejaran disusun
Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja.
Ayat 2 cukup jelas
Pasal 15
Penerimaan Anggota dari Gereja yang tidak Seajaran Pasal 15Cukup jelas
5
1. Majelis Gereja menerima anggota yang datang dari
gereja yang tidak seajaran dengan atau tanpa atestasi
setelah diadakan penerimaan dalam suatu ibadah
Jemaat dengan menggunakan Naskah Liturgis
Penerimaan Anggota dari Gereja Yang Tidak Seajaran.
2. Majelis Gereja mewartakan penerimaan anggota
tersebut kepada anggota jemaat.
BAB III
PELAYANAN GEREJAWI
Pasal 16
Bentuk-bentuk Pelayanan Gerejawi
Bentuk-bentuk pelayanan Gereja Toraja adalah: Ibadah
Jemaat, Baptisan Kudus, Perjamuan Kudus,
Katekisasi,Peneguhan Sidi, pemberkatan/peneguhan
nikah,Diakonia,Pembinaan Warga Gereja, pelayanan
Organisasi Intra Gerejawi, Penggembalaan, Disiplin
Gerejawi, Pekabaran Injil, pelayanan Lembaga Pelayanan
Gerejawi dan Pelayanan Kategorial.
Pasal 16Cukup Jelas
Pasal 17
Ibadah Jemaat
1. Ibadah jemaat adalah ibadah yang dilaksanakan secara
bersama-sama oleh anggota jemaat dewasadan anakanak
2. Ibadah jemaat meliputi: ibadah hari minggu, ibadah
hari raya gerejawi, ibadah pelayanan khusus, ibadahibadah
Organisasi Intra Gerejawi dan ibadah-ibadah
lain yang diatur dan dilaksanakan di bawah tanggung
jawab Majelis Gereja setempat.
3. Ibadah jemaat dilaksanakan sesuai Tata Ibadah yang
ditetapkan oleh Sidang Sinode Am.
4. Nyanyian yang dipakai dalam ibadah adalah mazmur
dan nyanyian-nyanyian rohani yang tidak bertentangan
dengan Pengakuan Gereja Toraja.
Pasal 17
Ayat 1 Setiap ibadah jemaat yang dilaksanakan oleh
anggota jemaat dalam lingkup jemaat harus
di bawah tanggung jawab Majelis Gereja
setempat.
Ayat 2 Ibadah pelayanan khusus adalahpeneguhan
dan pemberkatan nikah,peneguhan penatua
dan diaken,pengurapan dan
peneguhan/penguraian pendeta,emeritasi
pendeta, pendewasaancabang kebaktian,
pelayanansakramen.
Ayat 3 Tata ibadah hari minggudan hari raya
gerejawi yang sudahditetapkan oleh Sidang
Sinode Amdipergunakan secara
bergantiandalam ibadah jemaat sesuai
pengaturan Majelis Gereja.
Pasal 18
Baptisan Kudus
1. Baptisan kudus terdiri atas baptisan dewasa dan
baptisan terhadap anak.
2. Baptisan kudus dilaksanakan dalam ibadah jemaat di
tempat ibadah hari minggu atau di tempat yang
ditentukan oleh Majelis Gereja dengan menggunakan
Naskah Liturgis Pelayanan Baptisan Kudus Gereja
Toraja.
3. Baptisan kudus dilaksanakan sesudah didoakan dan
diumumkan sekurang-kurangnya 2 (dua) hari minggu
berturut-turut.
4. Setiap orang hanya sekali dibaptis dalam nama Bapa
dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19).
5. Jika terdapat hal-hal khusus, Majalelis Gereja dapat
memutuskan untuk melakukan pelayanan baptisan kudus
walaupun hanya satu kali hari Minggu diumumkan
Pasal 18
Ayat 1
a.Baptisan kudus dewasa adalah baptisan kudus untuk
orang yang:
1. Menyatakan pengakuan sendiri bahwa Yesus
Kristus itulah Tuhan dan Juruselamat.
2. Berumur minimal 15 (lima belas) tahun atau yang
sudah menikah.
3. Telah mengikuti pengajaran agama kristen yang
dipersiapkan khusus untuk calon baptis.
b. Baptisan kudus anak adalah baptisan kudusuntuk
orang yang:
1. Berumur kurang dari 15 (lima belas) tahun.
2. Belum dapat mengaku sendiri bahwa Yesus Kristus
itulah Tuhan dan Juruselamatnya. Pengakuan dan
janji diucapkan oleh orang tua atau walinya.
3. Orang tua kandung atau orang tua asuh atau wali
adalah anggota sidi dan tidak sedang menjalani
disiplin gerejawi.
Ayat 2 Cukup jelaas
Pasal 19
Perjamuan Kudus
1. Perjamuan kudus dilakukan dalam ibadah jemaat di
tempat kebaktian hari minggu atau di tempat lain yang
ditetapkan oleh Majelis Gereja dengan menggunakan
Pasal 19
Ayat 1
Sebelum pelayanan perjamuan kudus dilaksanakan,
Majelis Gereja:
a. Mengadakan perkunjungan kepada anggota
6
Naskah Liturgis Perjamuan Kudus Gereja Toraja.
2. Perjamuan kudus diikuti oleh anggota sidi yang tidak
sedang menjalani disiplin gerejawi.
3. Perjamuan kudus menggunakan roti dan anggur.
4. Perjamuan Kudus menggunakan meja sebagai simbol
persekutuan
jemaat untuk menjelaskan maksud dan
pentingnya perjamuan kudus.
b. Mengadakan khotbah persiapan dan
pembacaan sebagian Naskah Liturgis
Perjamuan Kudus dalam kebaktian hari
minggu.
c. Anggota sidi yang tidak dapat mengikuti
perjamuan kudus dalam ibadah jemaat di
tempat kebaktian hari minggu karena alasan
kesehatan dapat meminta pelayanan
perjamuan kudus kepada Majelis Gereja.
Pelayanan ini merupakan pelayanan yang tak
terpisahkan dari pelayanan Perjamuan Kudus
yang dilaksanakan dalam ibadah jemaat di
tempat ibadah hari minggu
Ayat 2 cukup jelas
Ayat 3 Perjamuan kudus menggunakan alat minum
cawan atau sloki.
Ayat 4 cukup jelas
Pasal 20
Katekisasi
1. Gereja Toraja mengenal 3 (tiga) jenis katikasasi yakni
katekisasi baptis, sidi dan nikah.
2. Katekisasi baptis, sidi dan nikah diselenggarakan oleh
Majelis Gereja dan dilaksanakan oleh pendeta atau
orang yang ditetapkan oleh Majelis Gereja.
3. Katekisasi sidi diikuti oleh anggota baptis yang akan
menyatakan pengakuan imannya di hadapan Tuhan
dan jemaat-Nya.
4. Katekisasi persiapan nikah diikuti oleh anggota yang
akan melangsungkan pernikahan gerejawi.
Pasal 20
Ayat 1
b. Katekisasi baptis diikuti orang tua/wali dari
calon baptis anak atau calon baptis
dewasa dan berlangsung sekurangkurangnya
dua kali pertemuan
a. Katekisasi sidi berlangsung selama 6
(enam) sampai 12 (dua belas) bulan
dengan menggunakan buku katekisasi sidi
Gereja Toraja.
b. Katekisasi nikah menggunakan buku
katekisasi nikah Gereja Toraja.
Ayat 2 cukup jelas
Ayat 3 cukup jelas
Ayat 4 cukup jelas
Pasal 21
Peneguhan Sidi
1. Peneguhan sidi diselenggarakan dalam ibadah jemaat
di tempat kebaktian hari minggu atau di tempat lain
yang ditetapkan oleh Majelis Gereja dengan
menggunakan Naskah Liturgis Peneguhan Sidi Gereja
Toraja.
2. Peneguhan sidi diikuti anggota baptis yang telah
berusia 15 (lima belas) tahun dan telah mengikuti
pelajaran katekisasi sidi.
Pasal 21 cukup jelas
Pasal 22
Pemberkatan Nikah
1. Pernikahan gerejawi adalah perkawinan antara
seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk
menjadi pasangan suami istri seumur hidup dan
diberkati dalam suatu ibadah jemaat di tempat
kebaktian hari minggu atau di tempat lain yang
ditetapkan oleh Majelis Gereja.
2. Dapat tidaknya Pemberkatan nikah dilakukan bagi
calon yang pernah cerai, diputuskan setelah dilakukan
penelitian secara saksama, mendalam dan dalam
waktu yang cukup lama.
3. Majelis Gereja mengumumkan dan mendoakan dalam
kebaktian hari minggu sekurang-kurangnya 2 (dua) hari
minggu berturut-turut.
4. Setiap anggota jemaat wajib mencatatkan nikahnya
pada pemerintah.
Pasal 22
Ayat 1
a. Jika calon belum mengikuti katekisasi nikah dari
jemaat asalnya karena jauh, maka terlebih
dahulu dilaksanakan katekisasi nikah oleh
majelis di mana ia akan diberkati.
b. Pemberkatan nikah bagi pasangan yang
berbeda denominasi dapat dilakukan setelah
Majelis Gereja setempat meneliti dan
mempertimbangkan secara cermat serta telah
melaksanakan katekisasi nikah.
c. Jika calon mempelai belum menjadi anggota
sidi, maka terlebih dahulu dilakukan peneguhan
sidi.
Ayat 2
a. Gereja Toraja pada prinsipnya tidak menyetujui
perceraian. Perceraian terjadi karena pengaruh
dosa dan kekerasan hati manusia. Karena itu
Gereja Toraja berjuang dengan penuh kasih,
7
pengharapan dan pengampunan mendampingi
warganya yang gagal dalam pernikahan.
b. Prosedur penelitian yang dimaksudkan sebagai
berikut:
1. Mengajukan surat permintaan untuk
diberkati
2. Majelis Gereja mengadakan Sidang untuk
membentuk tim pemeriksaan dan
penelitian terhadap kedua calon.
3. Hal- hal yang diteliti adalah:
a. Sebab musebab perceraian.
b. Keberadaan suami/istiri dan anakanak.
c. Dampaknya bagi persekutuan jemaat,
d. Bukti surat pendukung yg berkaitan
dengan hukum( Surat Cerai dari
Pengadilan).
e. Yang bersangkutan mengakui dosa dan
kesalahan serta menyadari buruknya
akibat perceraian.
f. Yang bersangkutan membawa surat
keterangan dari jemaat/gereja asalnya.
1. Setelah penelitian, Majelis Gereja
melaksanakan sidang untuk
menetapkan dapat tidaknya
permbekatan dilaksanakan.
2. Apabila pemberkatan dapat
dilaksanaan maka dilakukan
katekisasi nikah.
3. Dalam akta liturgi pernikahan perlu
diformulasikan secara bijak adanya
pengakuan dosa dan kesalahan dari
yang besangkutan.
4. Penilitian dilaksanakan sekurangkurangnya
3 (tiga) bulan.
Ayat 3 cukup jelas
Ayat 4 cukup jelas
Pasal 23
Diakonia
1. Diakonia dilaksanakan untuk memelihara, menolong
dan menyejahterakan anggota jemaat dan sesama
manusia yang lemah dan berkekurangan serta
berusaha membendung dan mencegah sebab-sebab
kesengsaraan dan kemelaratan manusia.
2. Diakonia dapat dilaksanakan dengan perkunjungan,
memberikan bantuan berupa keterampilan khusus,
memberi pendampingan, motivasi, dan santunan.
3. Diakonia dapat bersifat karitatif dan transformatif.
Pasal 23
Ayat 1cukup jelas
Ayat 2 Pendampingan artinya pemberian
bantuan berupa nasihat, modal usaha,
petunjuk dan keterampilan
mengembangkan usaha yang sedang
ditekuni. Pendampingan juga bisa
dilakukan dalam bentuk menghubungkan
dengan orang-orang atau lembaga yang
berpotensi untuk memberi bantuan
diakonia. Bantuan berupa motivasi
dimaksudkan sebagai bantuan untuk
menguatkan iman sehingga anggota
jemaat dapat melihat pergumulan yang
sedang mereka alami dari sudut pandang
iman kristen.
Ayat 3 Diakonia karitatif adalah bantuan yang
diberikan untuk menanggulangi kebutuhan
mendesak, misalnya karena peristiwa
bencana alam, anggota jemaat yang sama
sekali tidak mempunyai kemampuan untuk
membiayai hidup-nya. Diakonia
transformatif adalah bantuan yang
diberikan berupa modal untuk
dikembangkan atau bantuan studi,
bantuan kursus-kursus keterampilan dsb.
Diakonia dalam arti yang lebih luas adalah
segala usaha menanggulangi akar
kemiskinan.
Pasal 24
Pembinaan Warga Gereja Pasal 24 cukup jelas
8
1. Pembinaan warga gereja adalah pelayanan yang
dilakukan untuk memerlengkapi orang-orang kudus
bagi pembangunan Tubuh Kristus.
2. Pembinaan warga gereja meliputi manusia seutuhnya.
3. Pembinaan warga gereja dilaksanakan baik secara
umum maupun secara kategorial.
4. Pembinaan warga gereja diselenggarakan oleh Majelis
Gereja dan dilaksanakan oleh seluruh anggota jemaat,
pengurus/pelayan organisasi intra gerejawi, dan
lembaga-lembaga pembinaan lainnya yang ditetapkan
oleh Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja.
Pasal 25
Penggembalaan
1. Majelis Gereja, dengan kasih sayang, menjalankan
penggembalaan mengenai kepercayaan dan kehidupan
anggota jemaat berdasarkan perintah Tuhan Yesus
Kristus yang adalah Kepala Gereja dan Gembala Yang
Baik.
2. Majelis Gereja dan anggota jemaat bertanggung jawab
atas pelaksanaan penggembalaan melalui
perkunjungan secara terencana dan teratur.
3. Gereja Toraja melaksanakan dua jenis penggembalaan,
yaitu penggembalaan umum dan penggembalaan
khusus.
4. Penggembalaan Khusus terhadap anggota jemaat,
pejabat khusus gerejawi, dan jemaat dilaksanakan
berdasarkan Matius 18:15-16.
Pasal 25
Ayat 1 cukup jelas
Ayat 2 cukup jelas
Ayat 3
1. Penggembalaan umum merupakan
penggembalaan yang dilaksanakan secara terus
menerus melalui kebaktian, perkunjungan
pastoral, percakapan pastoral, surat
penggembalaan dan bentuk-bentuk
penggembalaan lain.
2. Penggembalaan khusus merupakan
penggembalaan yang dilaksanakan kepada
anggota jemaat untuk membimbing sampai
kepada penyesalan dan pertobatan.
Penggembalaan khusus dilayankan kepada:
a. Anggota jemaat yang kehidupan dan atau
paham pengajarannya bertentangan dengan
firman Allah dan Pengakuan Gereja Toraja,
merusak diri dan keluarganya, serta menjadi
batu sandungan bagi orang lain.
b. Pejabat khusus yang menganut dan
mengajarkan ajaran yang bertentangan
dengan firman Allah dan Pengakuan Gereja
Toraja, menyalahgunakan jabatannya,
melalaikan kewajibannya, menimbulkan
kekacauan/perpecahan dalam jemaat, dan
kelakuannya bertentangan dengan firman
Allah dan atau mengingkari jabatannya
sehingga menjadi batu sandungan bagi
jemaat dan masyarakat.
c.Jemaat yang mempunyai haluan dan pengajaran
yang bertentangan dengan firman Tuhan atau
menyimpang dari Pengakuan Gereja Toraja
dan Tata Gereja Gereja Toraja serta tidak
menaati keputusan-keputusan Sidang Sinode
Am.
Ayat 4 cukup jelas
Pasal 26
Disiplin Gerejawi
1. Atas perintah Tuhan Yesus Kristus yang adalah Kepala
Gereja dan Gembala Yang Baik, Majelis Gereja
menasihati atau menegur dengan penuh kasih sayang
mengenai kepercayaan dan kehidupan anggota
jemaat.
2. Disiplin gerejawi dilaksanakan dengan maksud:
a. Kemuliaan Tuhan.
b. Pertobatan dan keselamatan orang-orang yang
berdosa.
c. Peringatan dan pengajaran bagi seluruh anggota
jemaat untuk memelihara kekudusan jemaat
Kristus.
d. Menyatakan bahwa pintu kerajaan surga tertutup
bagi orang yang tetap hidup dalam dosanya tetapi
Pasal 26
Ayat 1 cukup jelas
Ayat 2 cukup jelas
Ayat 3 a. Disiplin gerejawi terhadap anggota
jemaat:
1. Seorang anggota jemaat yang telah
menjalani penggembalaan khusus namun
tidak mau menyesal dan bertobat serta
dosanya telah diketahui umum, tidak
diperkenankan untuk: turut dalam
perjamuan kudus, membawa
anak-anaknya untuk dibaptis, memilih
dan dipilih sebagai pemangku jabatan
khusus dalam jemaat. Penerapan disiplin
dilakukan menurut formulir yang telah
ditetapkan.
9
terbuka bagi orang yang bertobat.
3. Disiplin gerejawi dilaksanakan terhadap:
a. Anggota Jemaat.
b. Penatua.
c. Diaken.
d. Pendeta.
e. Jemaat.
2. Anggota jemaat yang sedang menjalani
disiplin gerejawi tetap digembalakan
dengan penuh kasih sayang. Jika anggota
yang menjalani disiplin gerejawi
mendengar dan menerima nasihat dan
teguran yang diberikan kepadanya serta
ingin turut dalam perjamuan kudus atau
ingin menyerahkan anak-anaknya untuk
menerima baptisan kudus haruslah
mengaku dosa terlebih dahulu di
hadapan Majelis Gereja atau jemaat.
b. Disiplin gerejawi terhadap penatua :
Seorang anggota penatua berbuat sesuatu
kesalahan, umpamanya melalaikan kewajiban
sebagai Penatua, menggunakan salah
jabatannya, melakukan perbuatan-perbuatan
yang bertentangan dengan firman Tuhan,
menganut dan mengajarkan ajaran yang
bertentangan dengan firman Allah dan
Pengakuan Gereja Toraja, menimbulkan
kekacauan/perpecahan dalam jemaat,
hendaklah anggota yang mengetahuinya
menasihati dan menegurnya.
c. Disiplin gerejawi terhadap Diaken
Seorang anggota Diaken berbuat sesuatu
kesalahan, umpamanya melalaikan kewajiban
sebagai Daken, menggunakan salah jabatannya,
melakukan perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan firman Tuhan, menganut
dan mengajarkan ajaran yang bertentangan
dengan firman Allah dan Pengakuan Iman
Gereja Toraja, menimbulkan
kekacauan/perpecahan, hendaklah anggota
yang mengetahuinya menasihati dan
menegurnya.
d. Disiplin gerejawi terhadap Pendeta
Seorang pendeta berbuat sesuatu kesalahan,
umpamanya mengajarkan ajaran yang
bertentangan dengan firman Allah, Pengakuan
Iman Gereja Toraja dan Tata Gereja Toraja,
melalaikan kewajiban sebagai Pendeta,
menggunakan salah jabatannya, menimbulkan
kekacauan/perpecahan dalam jemaat,
melakukan perbuatan-perbuatan yang
bertentangan dengan firman Tuhan, hendaklah
anggota yang mengetahuinya menasihati dan
menegurnya.
e. Disiplin gerejawi terhadap jemaat
Jika ada jemaat yang mempunyai haluan dan
pengajaran yang bertentangan dengan firman
Tuhan atau menyimpang dari Pengakuan Gereja
Toraja dan Tata Gereja Toraja serta tidak
menaati keputusan-keputusan Sidang Sinode
Am, haruslah dinasihati dan ditegur oleh Badan
Pekerja Klasis berdasarkan Alkitab melalui
perlawatan khusus.
Pasal 27
Pekabaran Injil
1. Gereja Toraja memberitakan injil kepada segala bangsa
dan segala makhluk.
2. Pekabaran injil dilaksanakan melalui kata dan
perbuatan oleh setiap anggota jemaat baik sendiri
maupun bersama-sama.
3. Dalam pelaksanaan pekabaran injil, Majelis Gereja
dapat bekerja sama dengan lembaga pekabaran injil
Pasal 27 cukup jelas
10
yang ditetapkan oleh Badan Pekerja Sinode Gereja
Toraja dan lembaga-lembaga pekabaran Injil yang
disetujui oleh Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja.
4. Majelis Gereja dalam koordinasi dengan Badan Pekerja
Sinode Gereja Toraja mengutus Pekabar Injil ke
daerah-daerah pekabaran injil.
5. Badan Pekerja Sinode dapat mengangkat dan
mengutus tenaga Pekabar Injil
Pasal 28
Lembaga Pelayanan Gerejawi dan Pelayanan Kategorial
1. Gereja Toraja membentuk lembaga-lembaga
pelayanan gerejawi dalam bentuk yayasan, tim kerja,
atau yang sejenisnya, baik di lingkup jemaat, klasis,
wilayah maupun sinode.
2. Struktur kepengurusan dan personalia lembaga
pelayanan gerejawi ditetapkan oleh badan pekerja
masing-masing sesuai dengan lingkup pelayanannya
atau sesuai Surat Keputusan.
3. Yang dapat dipilih dan ditetapkan sebagai personalia
lembaga pelayanan gerejawi ialah anggota sidi yang
memiliki pengetahuan, komitmen, kemampuan,
integritas dan dedikasi untuk bidang pelayanan yang
dipercayakan kepadanya serta dapat bekerja sama
dengan orang lain.
4. Personalia lembaga pelayanan gerejawi bertanggung
jawab kepada badan pekerja yang mengangkatnya.
5. Masa pelayanan personalia lembaga pelayanan
gerejawi disesuaikan dengan masa tugas badan
pekerja yang mengangkatnya.
6. Masa bakti seseorang dalam lembaga pelayanan
gerejawi maksimal dua periode berturut-turut pada
jabatan yang sama.
7. Pada akhir masa pelayanannya, pengurus lembaga
pelayanan gerejawi mempertanggungjawabkan
pekerjaannya kepada badan pekerja yang
mengangkatnya.
8. Pelayanan kategorial antara lain: Pelayanan yang
dilakukan kepada organisasi intra gerejawi, pelayanan
kepada kelompok professional/fungsional, pelayanan
yang dilakukan oleh lembaga-lembaga gerejawi di
bidang pendidikan, kesehatan, dan lembaga lainnya
yang ditetapkan oleh Badan Pekerja Sinode Gereja
Toraja.
Pasal 28
Ayat 1
a. Masa tugas Pengurus Lembaga Pelayanan
Gerejawi mengikuti periode kepengurusan
badan yang mengangkatnya.
b. Lembaga Pelayanan Gerejawi yang
berbentuk yayasan, pembinanya adalah
orang perseorangan dari Badan Pekerja
Sinode Gereja Toraja yang bertindak untuk
dan atas nama Gereja Toraja.
c. Masa tugas pengurus Lembaga Pelayanan
Gerejawi berbentuk yayasan berdasar
pada Undang-Undang Yayasan yang
berlaku.
Ayat 2 cukup jelas
Ayat 3 cukup jelas
Ayat 4 cukup jelas
Ayat 5 cukup jelas
Ayat 6 cukup jelas
Ayat 7 cukup jelas
Ayat 8 cukup jelas
BAB IV
JABATAN GEREJAWI
Pasal 29
Jabatan Gerejawi
1. Gereja Toraja mengakui jabatan am orang percaya.
2. Dalam rangka memperlengkapi orang-orang kudus
bagi pembangunan tubuh Kristus, Gereja Toraja